Makna Tersembunyi Séka’ Ambhãng, Warisan Lisan Madura yang Memudar
![]() |
| Ilustrasi anak-anak kampung Kembung Madura sedang bermain layangan Séka' Ambãng di Sawah |
Sanusantara, Sampang - Nyanyian rakyat Madura yang disebut Séka’ Ambhãng dahulu akrab mengiringi permainan anak-anak di Kampung Lembung Sampang Madura, kini semakin jarang terdengar. Di balik liriknya yang sederhana, lagu tersebut ternyata menyimpan nilai sosial, moral, dan budaya yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak-anak di lingkungan masyarakat.
Fenomena tergerusnya nyanyian rakyat itu menjadi perhatian sejumlah pemerhati budaya. Sebab, selain berfungsi sebagai hiburan, Séka’ Ambhãng juga dinilai sebagai media pewarisan nilai yang berlangsung secara alami melalui permainan tradisional.
Salah seorang pemerhati Tradisi Lisan Madura, Fauzi S.Pd. mengatakan, bahwa lagu tersebut memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan yang tampak pada permukaannya.
Dia menuturkan, "Jika ditelisik lebih dalam, lagu ini hadir bukan sekadar hiburan, tetapi medium pembelajaran moral, kesabaran, dan interaksi sosial yang membentuk identitas anak. Namun hilangnya praktik nyanyian tersebut, menandai senyapnya salah satu jalur utama pewarisan budaya lokal yang unik."
Menurut Fauzi, lirik Séka’ Ambhãng memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak melalui cara yang sederhana, mudah dipahami, dan menyenangkan.
Lagu tersebut berbunyi:
Dengan terjemahan:
Dijelaskan Fauzi, keberadaan layangan dan telur putih dalam lirik bukan sekadar pelengkap lagu. Sebaliknya, kedua unsur tersebut menghadirkan simbol yang berkaitan dengan kebiasaan berbagi, kesabaran, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku dalam kehidupan sosial.
Selain itu, kata Fauzi lebih lanjut menuturkan, pengulangan kalimat “Jã' bhãghi jã' bhãghi jã' bhãghi” dinilai memiliki fungsi penting dalam membangun ritme permainan sekaligus memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada anak-anak.
Dia juga berpendapat, pola lirik yang sederhana dan berulang memungkinkan lagu tersebut mudah diingat, kemudian diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya melalui tradisi lisan.
Lebih jauh, Fauzi menilai Séka’ Ambhãng tidak hanya mencerminkan aktivitas bermain anak-anak, melainkan juga menghadirkan dunia simbolik yang memperlihatkan hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya.
Lagu tersebut, kata pemuda yang juga akrab dengan nama Aryo Hélap ini, dapat dibaca melalui perspektif hermeneutik Paul Ricoeur, yakni sebuah pendekatan yang melihat teks sebagai ruang untuk memahami makna yang lebih dalam dari sekadar susunan kata-kata.
Dalam perspektif tersebut, kata séka' ambãng yang merujuk pada layangan tidak hanya dipahami secara harfiah. Kata itu juga dapat dimaknai sebagai simbol kebebasan, harapan, dan keterikatan sosial yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, keberadaan Séka’ Ambhãng saat ini semakin tergerus oleh perubahan zaman. Fauzi mendapat informasi saat penelitian skripsinya, jika hingga sekitar tahun 1980-an lagu tersebut masih kerap terdengar di lingkungan Kampung Lembung, kini nyanyian itu nyaris tidak lagi ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
"Perubahan pola bermain anak menjadi salah satu penyebabnya. Kehadiran gawai, permainan digital, serta media sosial perlahan menggantikan ruang interaksi yang sebelumnya terbentuk melalui permainan tradisional dan nyanyian rakyat," singakap Aryo.
Akibatnya, bukan hanya lagu yang menghilang, melainkan juga ruang pembelajaran sosial yang selama ini melekat di dalamnya. Nilai berbagi, kesabaran, kebersamaan, hingga pengalaman estetis yang diwariskan melalui tradisi lisan berangsur-angsur ikut memudar.
Karena itu, Fauzi menilai pelestarian tradisi lisan perlu menjadi perhatian bersama. Upaya tersebut tidak cukup dilakukan melalui dokumentasi semata, tetapi juga harus melibatkan generasi muda secara langsung agar mereka dapat mengenal, memahami, dan menghidupkan kembali warisan budaya yang dimiliki daerahnya.
"Dengan demikian, Séka’ Ambhãng tidak hanya menjadi catatan sejarah budaya, melainkan tetap hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi," papar Fauzi.* (Aji) #Kampung_Lembung #Warisan_Budaya #Tradisi_Lisan #Nyanyian_Rakyat #Sampang_Madura

Posting Komentar