Membaca Budaya Politik Indonesia dari Orde Baru Hingga Kepemimpinan Prabowo
![]() |
| Ilustrasi rakyat yang posisinya sebagai Klien di budaya politik Indonesia |
Sanusantara - Jika diamati dari luaran, politik di Indonesia selalu tampak semacam gelombang, yakni bergerak cepat. Namun saat dilihat lebih dalam, ternyata terdapat arus yang stabil dan menentukan arah loyalitas rakyat. Pergantian pemimpin dan perubahan konstitusi, misalnya, yaitu hanya permukaan saja yang terlihat. Padahal pola relasi kekuasaan sedang berlangsung di dalamnya.
Nah untuk mengetahui prilaku politik yang seperti itu, kita memerlukan kerangkangka analisis yang mampu menangkap ikatan persoanal dan simbolik di antara pemimpin dan masyarakat.
Arah politik di Indonesia akan terasa menarik jika kita bandingkan dengannya teori Patron-Klien, yang menguraikan hubungan. Yaitu, pemimpin bertindak sebagai patron atau penyedia perlindungan, akses sumber daya, atau legitimasi simbolik. Sementara klien posisinya sebagai yang memberi loyalitas yang bersifat personal dan emosional, katakan saja masyarakat.
Benang merah yang dimaksud, adalah pertukaran yang bersifat material atau simbolik. Inti dari patronase ini terletak pada timbal balik yang membuat hubungan tetap berjalan meskipun konteks sosial berubah. Jadi dengan memahami konsep pemikiran itu, kita bisa menafsir perubahan politik dari orde lama hingga era digital tanpa kehilangan inti relasi kekuasaan.
Artinya dengan kacamata Ptron-Klien ini, perjalanan budaya pokitik Indonesia bisa terbaca tidak hanya dari fakta semata, melainkan juga bisa daeincerita tentang loyalitas, simbol, dan narasi yang membentuk intraksi sosial politik. Dengan begitu, setiap era politik di Indonesia bisa terjawab telah sesuai dengan zaman apa tidak.
Membaca Politik Indonesia Lewat Kacamata Patron-Klien
Nah, dalam artikel ini, Sanusantara mencoba membaca historis politik dari era pak Karno hingga Prabowo. Tentunya melalui perbandingan antara masing-masing era dengan Patron-Klien.
1. Orde Lama: patronase Karismatik
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa di era orde lama, budaya politik di dominasi oleh kepemimpinan yang Karismatik. Dalam hal ini, Soekarno sebagai patron utama, yakni membangun loyalitas rakyat melalui sistem mbok perjuangan, nasionalisme, dan semangat revolusi. Pada masa itu, hubungan antara pemimpin dengan masyarakat bertumpu pada ikatan emosional dan ideologis yang membandingkan pertimbangan material.
Membaca histori lama, bahwa karisma pemimpin saat itu bisa dikatakanbaumber legitimasi politik paling kuat. Yakni lewat pidato, memobilisasi masa, narasi perasatuan bisa ditemukan di masa Pak Karno ini. Jadi loyalitas rakyat terbentuk sebagai ikatan simbolik. Dalam lenasa Patron Klien, hubungan semvak itu memperlihatkan bagaimana patron memberi arah dan legitimasi, sementara rakyat membalas dengan memberikan dukungan politik.
2. Orde Baru: Patronase Berbasis Negara
Adapun pada masabOrde Baru, pola Patron-Klien bergeser dari karima ke Patronase negara di bawah kepemimpinan. Di masa ini, loyalitas rakyat dijaga lewat stabilitas politik, pembangunan ekonomi, dan birokrasi. Jadi posisinya itu, negara berperan sebagai patron, yakni menyediakan keamanan dan akses terhadap berbagai sumber daya.
Pada masa ini, loyalitas masyarakat lebih banyak dibangun lewat hubungan yang bersifat pragmatis. Yakni, program pembangunan, birograsi, dan kontrol politik memperkuat ketergantungan warga terhadap negara. Sehingga patronase tetap bertahan meski tampil dalam bentuk yang lebih terstruktur dan instusional.
3. Era reformasi: Patronase yang Terfragmentasi
Di era reformasi ini berbeda dari era sebelumnya, karena membawa demokrasi dan desentralisasi yang membuka ruang bagi munculnya patron-patron lainnya. Yakni kepala daerah, elit partai, dan kelompok ekonemi membangun jaringan loyalitasnya. Jadi bisa dikatakan, hubungan Patron-Klien tidak menghilang, melainkan tampil lebih tersebar dan kompetitif.
Di sisi lain, praktik politik transaksional masih mewarnai dinamika demokrasi. Jadi bantuan politik, jaringan kekuasaan, hingga pengaruh oligarki menunjukkan bahwa pertukaran kepentingan tetap menjadi bagian dari politik Indonesia. Loyalitas pun mudah berubah, yaitu mengikuti kepentingan dan sumber daya.
4. Era Politik Hingga Pemerintahan Prabowo
Memasuki era digital hingga pemerintahan Prabowo, lebih pada media sosial yang menjadi ruang praktik patronase. Yakni, pemimpin membangun kedekatan dengan masyarakat melalui konten digital, komunikasi langsung, serta pencitraan yang lebih personal. Jadi tetap, hubungan emosional menjadi fondasi utama dalam memperoleh dukungan publik.
Artinya, adanya teknologi justru mengubah cara patron dan klien berinteraksi, namun tanpa mengubah dasarnya. Jadi loyalitas, kini dibentuk melalui narasi digital, algoritma media sosial, dan eksposur informasi yang berlangsung begitu cepat. Dalam hal ini bisa dikatakan, bahwa pateon beradaptasi dengan perkembangan zaman. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa relasi personal masih menjadi bagian penting dalam budaya politik Indonesia.
Teman-teman Sanusantara, perjalanan budaya politik Indonesia memperlihatkan bahwa pola Patron-Klien tetap menjadi benang merah dari orde Lama hingga pak Prabowo. Artinya perbuatan pemimpin dan perkembangan teknologi hanya mengubah bentuk saja. Terimakasih.* (Aji) #Patron-Klien #Politik_Indonesia #Presiden_Prabowo

Posting Komentar