BREAKING

Teater Sabit UTM Harumkan Kampus di Competition Artefac Monolog UNS 2026

Seorang perempuan berselendang berdiri menghadapnoe kiri sambil berteriam
Aktor Teater Sabit FKIP UTM saat Competition berlangsung

Sanusantara - Teater Sarana Bijak Berestetika (Sabit) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berhasil meraih Juara 2 dalam ARTEFAC UNS Monologue Competition 2026 melalui pementasan Selendang Dosa, sebuah karya yang mereka adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Prestasi itu terasa semakin istimewa, karena diraih di tengah berbagai keterbatasan yang mereka dihadapi, yaitu mulai dari minimnya anggaran hingga penggunaan properti panggung yang sederhana. Meski begitu Teater Sabit tetap berupaya memberikan penampilan terbaik.

Keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat mereka. Sebaliknya, kondisi tersebut justru menjadi pemicu untuk menghadirkan pertunjukan yang lebih kreatif, lebih hidup, dan mampu meninggalkan kesan di hadapan dewan juri.

Keberhasilan kelompok seni naungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidik (FKIP) UTM tersebut, tentu saja, tidak diraih secara instan. Di balik capaian yang membanggakan itu terdapat proses panjang yang dijalani dengan penuh kesungguhan, kerja sama, serta komitmen seluruh anggota tim.

Maka itu, penghargaan yang diraih bukan hanya menjadi kemenangan bagi Teater Sabit, melainkan juga menjadi kebanggaan bagi keluarga besar UTM, khususnya FKIP.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Ketua Umum Teater Sabit Periode 2026, Nurul Hidayah Putry, melalui keterangan yang disampaikan oleh anggota Madya Teater Sabit, Suryadi kepada Sanusantara (sa-nusantara.com) pada Kamis, 11 Juni 2026.

"Capaian ini menjadi bukti, bahwa kerja keras dan dedikasi mampu menghasilkan prestasi meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan," kata mahasiswa yang kerap dipanggil Kang Adi ini.

Teater Sabit juara 2 Artefac UNS Monologue Copetition ini, kata Kang Adi lebih lanjut menguraikan, dengan keterbatasan bajet dan properti seadanya. Namun mereka tetap mampu mensiasati kekurangan, bahkan bisa mengalahkan kampus-kampus seni yang ada di Jawa Barat Dan Jawa Tenggah.

Ditanya soal anggaran dari kampus, Kang Adi mengaku, pihaknya sudah mengajukan proposal ke Fakultas, yang kemudian diarahkan ke Universitas. "Nah, Alhamdulillah dari Univ kami dapat anggaran untuk transportasi," tutur dia.

Dijelaskan Suryadi, berkenaan dengan kompetisi tersebut, Teater Sabit membawakan naskah berjudul Selendang Dosa, sebuah karya adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Pemilihan naskah tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena sastranya yang kuat, serta cerita yang diangkat juga menyimpan konflik sosial.

Beberapa orang sedang berpose dalam berfoto
Anggota Teater Sabit sedang berpose sambil memegang piala

Selai itu, kata Kang Adi, novel Ronggeng Dukuh Paruk juga mengajak menyelami kehidupan seorang gadis desa. Tentunya kehidupan yang berhadapan dengan kuatnya tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat tempat sang gadis tinggal.

"Alur cerita yang sarat makna tersebut kemudian kami kemas dalam bentuk monolog. Tentunya menuntut kemampuan akting, penghayatan karakter, serta pengendalian emosi yang tinggi dari para pemain," imbuhnya.

Apalagi, tambah dia, fokus utama cerita terletak pada perjalanan hidup Srintil yang menjadi korban tuntutan tradisi masyarakat Dukuh Paruk. Sosok tersebut harus menjalani kehidupan yang tidak sepenuhnya yang ia pilih sendiri, karena adanya tekanan sosial dan budaya yang berkembang di lingkungannya.

"Melalui penghayatan karakter yang kuat, ekspresi yang emosional, serta kemampuan membangun suasana panggung secara meyakinkan, kami dinilai berhasil menarik perhatian dewan juri," imbuhnya.

Dibeberkan Kang Adi, meski dukungan properti yang terbilang sederhana, pihaknya tetap mampu menghadirkan pertunjukan yang utuh dan berkesan. Sebab kualitas sebuah karya seni, tidak selalu ditentukan oleh kemewahan panggung ataupun besarnya biaya produksi

"Sebaliknya, yakni kreativitas, ketekunan, serta keberanian dalam mengeksplorasi potensi yang dimiliki justru menjadi faktor penting yang mampu mengangkat kualitas pertunjukan," terangnya.

Meski berhasil menorehkan prestasi, pihak Teater Sabit tetap merasa memiliki banyak kekurangan dalam hal pementasan. Sehingga Komunitas dengan logo bulan sabit ini berkomitmen akan terus belajar.

"Kami harap keberhasilan ini bisa memotivasi kami dan mahasiswa UTM lainnya dalam hal prestasi," pungkasnya.

Sesuai informasi yang Sanusantara himpun, ARTEFAC UNS Monologue Competition 2026 diselenggarakan melalui beberapa tahapan yang cukup panjang. Yakni, kompetisi diawali dengan proses registrasi yang dibuka pada 9 Februari 2026 dan berakhir pada 20 Mei 2026. Selanjutnya, peserta diwajibkan mengumpulkan karya dalam bentuk video sebagai bagian dari babak penyisihan yang berlangsung hingga 22 Mei 2026.

Setelah seluruh karya terkumpul, dewan juri melakukan proses penilaian pada 23 hingga 26 Mei 2026. Hasil penilaian tersebut kemudian diumumkan pada 29 Mei 2026, untuk menentukan para finalis yang berhak melaju ke babak berikutnya. Sebelum tampil di panggung utama, para finalis terlebih dahulu mengikuti orientasi panggung yang dilaksanakan pada 9 Juni 2026.

Puncak kompetisi kemudian digelar secara luring pada 10 Juni 2026 di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Pada tahap final tersebut, lima finalis terbaik dari masing-masing kategori tampil secara langsung untuk memperebutkan gelar juara di hadapan dewan juri dan para penonton. (Aji) #Teater_Sabit #FKIP_UTM #Artefac_UNS_Monologue_Competition #Prestasi_Nasional

Posting Komentar