Eksotis XII Teater Sabit UTM Hadirkan Kritik Sosial, Usung Tema Sekat
![]() |
| Aktor pementasan Teater Sabit di Eksotis XII |
Sanusantara, Madura - Eksotis XII Teater Sabit Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) hadirkan kritik sosial. Diketahui pementasan itu, terlaksana pada Kamis, 25 Juni 2026, pukul 08.00 WIB, dengan mengangkat tema "Sekat".
Selain itu, pementasan yang sekaligus menjadi rangkaian peringatan hari jadi Teater Sabit ke-12 tersebut menghadirkan ruang refleksi mengenai berbagai batas yang diciptakan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Mulai dari kebebasan menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, hingga dinamika politik, seluruhnya dikemas melalui pertunjukan yang disinyalir mampu mengajak penonton merenungkan realita kejadian sekitar.
Hal itu diungkap langsung oleh Ketua Umum Teater Sabit 2026 Nurul Hidayah Putry kepada Sanusantara (sa-nusantara.com), Sabtu 27 Juni 2026.
Dibeberkan Nurul, bahwa lahirnya tema "Sekat" tidak muncul begitu saja. Sebaliknya, gagasan tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya selama aktif mengikuti organisasi di lingkungan perguruan tinggi.
Dia juga berpendapat, kehidupan organisasi kampus menyuguhkan dinamika yang jauh lebih kompleks dibandingkan organisasi ketika masih berada di bangku sekolah. Dari pengalaman itulah, ia mulai melihat adanya praktik-praktik politik di lingkungan pendidikan yang kemudian menjadi bahan refleksi sekaligus inspirasi dalam proses penciptaan pementasan.
"Ketika saya mulai menjalani perkuliahan dan mengikuti organisasi kampus, saya menyadari bahwa dinamika organisasi di kampus sangat berbeda dibandingkan di sekolah karena ada permainan politik di ranah pendidikan,"
"Oleh sebab itu, saya ingin menyampaikan bahwa bergelut dalam dunia politik memang penting, tetapi cara mengeksekusinya masih perlu diperbaiki agar tujuan yang ingin dicapai tetap berjalan sebagaimana mestinya," ujar Nurul.
Berangkat dari gagasan tersebut, kata Nurul lebih lanjut menyingkap, Teater Sabit kemudian memilih naskah Riuh sebagai materi utama pertunjukan. Naskah tersebut merupakan hasil adaptasi dari naskah monolog Mulut karya Putu Wijaya, yang dinilai masih relevan dengan kondisi sosial saat ini.
"Naskah drama Riuh merupakan adaptasi dari naskah monolog Mulut karya Putu Wijaya yang mengangkat kritik politik, sehingga kami merasa isunya masih sangat relevan," tuturnya.
Ditambahkan Nurul, "Selama kurang lebih dua bulan, aktor terus menjalani proses latihan dan, dalam setiap pertemuan, sutradara selalu mengajak mereka berdiskusi mengenai proses yang diinginkan agar latihan tetap hidup, berkembang, dan tidak menimbulkan rasa bosan."
Meskipun persiapan telah dilakukan selama dua bulan, proses produksi tetap dihadapkan pada sejumlah tantangan. Menurut Nurul, menjaga konsistensi seluruh aktor selama mengikuti latihan bukanlah perkara mudah, karena setiap pemain memiliki kesibukan yang berbeda.
Di samping itu, ia juga menilai proses pembedahan naskah serta penguatan olah rasa masih perlu diperdalam agar kualitas artistik pementasan dapat terus meningkat pada kesempatan berikutnya.
Tidak hanya dari sisi proses kreatif, penyelenggaraan pementasan tahun ini juga menghadirkan pengalaman baru. Berbeda dengan pementasan sebelumnya, Teater Sabit memilih area kantin kampus sebagai lokasi pertunjukan. Pemilihan tempat tersebut memang menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait fasilitas umum bagi tamu. Namun, di sisi lain, dukungan dari pihak kampus justru memberikan semangat tambahan bagi seluruh panitia dan pemain.
![]() |
| Foto bersama pasca pementasan Eksotis XII Teater Sabit |
Ketua Pelaksana Pementasan Eksotis XII, Maswa Maha Rani mengutarakan, seluruh rangkaian kegiatan pada akhirnya mampu berjalan dengan baik, meskipun sempat diwarnai sejumlah kendala yang muncul di luar perkiraan.
"Berkat kerja sama seluruh tim, setiap hambatan dapat kami selesaikan sehingga pementasan tetap berlangsung hingga selesai," imbuh dia.
Lebih lanjut Maswa menjelaskan, pementasan melibatkan seluruh anggota Teater Sabit, baik sebagai pemain maupun tim produksi. Seluruh proses latihan hingga hari pelaksanaan dipimpin langsung oleh Ketua Umum Teater Sabit yang juga menjadi sutradara.
"Selain merayakan ulang tahun Teater Sabit yang ke-12, pementasan ini juga kami jadikan sebagai wadah untuk mengembangkan kreativitas anggota sekaligus memperkenalkan seni teater kepada masyarakat dan kalangan pelajar," lanjutnya.
Antusiasme penonton pun menjadi salah satu catatan positif dalam penyelenggaraan Pementasan Eksotis XII. Melihat respons positif tersebut Maswa berharap, seni teater dapat terus berkembang sekaligus memperoleh perhatian yang lebih besar dari masyarakat, sekolah, maupun berbagai pihak lainnya.
Maswa berpikir, dukungan tersebut sangat penting agar ekosistem seni pertunjukan terus tumbuh dan mampu melahirkan generasi muda yang kreatif, inovatif, serta berani menyampaikan gagasan melalui karya seni.
"Kami berharap seni teater terus berkembang dan semakin memperoleh perhatian serta dukungan dari masyarakat, sekolah, maupun berbagai pihak lainnya," pungkas Maswa.* (Aji)
#Teater_Sabit #Eksotis_XII #Universitas_Trunojoyo_Madura

Posting Komentar