Perihal Jauh
![]() |
| Penulis cerpen dengan judul: Perihal Jauh |
Sesuai dengan apa yang pernah saya janjikan, saya akan pergi ke Belitung untuk menemui orang tuamu. Agar tak kau sebut saya ini pengecut atau cuma pandai merayu saja, yang walau ucapan belaka, itu tetap akan mengoyak harga diri saya sebagai pria yang serius ingin menikahimu.
Saat ini, terjadi hal menakjubkan dalam hati saya. Saya disesaki perasaan yang ingin diteriakkan, perasaan bahwa dunia begitu luas, sebegitu luas sampai-sampai saya harus merasa jauh dari siapa saja:
Dari orang-orang di Pelabuhan Tanjung Priok, yang membawa wajah nan berat ke atas kapal. Saya kira saat memandang laut, baik di kala senja atau fajarnya, dapat mengurangi kadar berat tersebut. Ternyata tidak. Saya duduk di dek belakang kapal bersama beberapa pembawa wajah berat itu, merokok bersama, dan keberatannya masih tetap di sana. Sekadar angin kencang rupanya tak cukup untuk menghempasnya. Malahan justru saya jadi tertular keberatan itu;
Dari para penyuntik timah di Belitung, yang dengan ramah mempersilakan saya untuk ikut dengan mereka menelusuri titik-titik tak berpenghuni, yang tanahnya sudah bolong-bolong, tetapi berisi air biru yang begitu indah. Saya sempat nyeletuk ingin melompat dan berenang sebentar, tapi urung sebab mereka bilang kurang-lebih delapan meter dalamnya.
Oh, mengapa saya tiba-tiba mengikuti para penambang itu? Yah, karena mereka adalah warga pertama yang saya temui di alamat desa yang kamu berikan. Saya bertanya—sesuai arahanmu—di mana saya bisa menemui “Bapak Anu” atau “Ibu Anu”? namun mereka bilang bahwa orang tuamu sudah pindah ke Riau beberapa tahun lalu. Saya pun mengantongi alamat baru, dan mereka menyarankan agar saya beristirahat dulu di desanya selama beberapa hari. Di waktu-waktu kosong saya—yang sebenarnya sepanjang hari—mereka mengajak saya pergi ke sana kemari, termasuk ke pantai Tanjung Tinggi yang merupakan salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi, dan tentu saja, ke kawasan tanah berlubang-lubang tempat mereka mengundi rezeki;
Dari manusia-manusia yang gembira di Pelataran Musi di Palembang, yang tak tertarik memperhatikan saya yang cuma duduk dan merokok sendirian, tetapi saya memperhatikan mereka.
Kecurigaan saya, perasaan yang tak bisa saya jelaskan ini bersumber dari dirimu, Layla. Barangkali saat ini kamu tengah bertenang-tenang saja di rumah nenekmu, membayangkan seperti apakah perjalanan yang saya lalui, sambil merasa sedih karena sadar bahwa hal-hal yang berpotensi membahagiakan untuk sementara hanya bisa terjadi di pikiranmu.
Atau malah tak memikirkan saya sama sekali.
Sementara diri saya sedang tersesat di keluasan ini. Kesesatan yang begitu menyenangkan. Saya bersyukur bahwa di abad ini manusia-manusia sudah belajar untuk berbuat baik tanpa pilah-pilih, untuk menerima siapapun yang datang selagi tak mengganggu kenyamanannya, untuk ramah asal tak dibuat marah. Saya jadi tidak perlu merasa khawatir dipandang aneh sebagai orang asing, yang tampak tidak yakin selanjutnya hendak melangkah ke mana. Oh, memanglah saya tidak yakin hendak ke mana, Layla. Kamu tidak memberi arahan apabila saya menemui kemungkinan semacam ini, apabila ternyata perjalanan saya bukan cuma sejauh kepulauan Bangka Belitung.
Dan dunia ini begitu luas, sedang saya seorang diri yang begitu jauh dari semuanya, termasuk dirimu.
Rokok saya habis menjelang Magrib. Saya kemudian bertanya tempat makan yang menarik dan nyaman kepada seorang tukang becak dan berakhir di area yang betul-betul menarik. Saya suka tempat makan itu, atas namanya kedai, tapi jenisnya sebuah warung terapung yang menyajikan penampakan Ampera yang lelampunya mulai menyala. Lumayan banyak pelanggan petang itu yang menyebabkan saya harus menunggu untuk mendapatkan tempat duduk. Syukurlah saya lantas dapat tempat duduk yang paling strategis, tempat angin paling bersepoi, dan memesan serta menghabiskan makanan dengan nikmat. Sempat terdengar beberapa anak muda di meja sebelah sedikit menggerutu, katanya saya seharusnya sadar diri sebab datang sendirian, janganlah ambil tempat duduk yang paling diincar banyak orang.
Saya tidak peduli, Layla. Saya pun tak tahu apakah dalam kehidupan yang sekejap ini saya ditakdirkan untuk kembali lagi ke sini, mendapatkan kesempatan kedua untuk memandangi Ampera Sungai Musi yang menyala berlatar langit menggelap, dengan ornamen lelampuan bangunan-bangunan di sekitarnya.
Mudah-mudahan kesempatan itu terwujud bersamamu. Siapa tahu suatu ketika kita pulang kampung karena kamu merindukan bapak-ibumu di Riau?
...
Pada mulanya saya cukup merasa heran mengingatmu mengatakan bahwa dua orang yang hendak saya temui ini sejatinya bukan kedua orang tuamu, melainkan kakek dan nenekmu. Kamu bilang bahwa orang tua aslimu sudah tiada, dan kamu tak berkenan untuk menceritakannya. Atau jangan-jangan kamu sendiri pun tak tahu kapan dan mengapa mereka meninggal?
Bagaimanapun, kakek dan nenekmu itu tetap mengajarimu memanggilnya Ibu dan Bapak. Dan saya pun tetap akan memanggil mereka bapak dan ibumu, juga akan menganggap mereka sebagai mertua saya, kelak.
Kelanjutan perjalanan mendudukkan saya di sebuah bus jurusan Jambi. Saya sembarangan bertanya kepada orang letak terminal antar provinsi, katanya terminal Alang-Alang Lebar. Nama yang terdengar aneh dan unik. Saya penasaran apakah bagian dalamnya benar-benar lebar seperti namanya, akan tetapi saat tiba di jalan utama dekat terminal, seseorang memberitahu saya bahwa untuk ke Jambi saya bisa langsung membeli tiket dari jejeran agen bus di pinggiran. Saya menurut, memesan, dan merokok bersama para penumpang lain sembari menunggu keberangkatan.
Debu dan asap jalanan membuat tubuh saya terasa lengket dan merindukan air. Tetapi tak masalah, mengingat kerinduan padamu tentulah lebih menggerakkan ketimbang air.
Di dalam bus saya tertidur seperti anak ayam. Yakni tidur yang mudah terjaga karena guncangan dan goyangan. Namun itu hanyalah beberapa jam pertama, Layla. Adapun jam-jam selanjutnya saya sudah tidak mengingat apa-apa lagi. Tahu-tahu hari sudah subuh, dan saya sudah tiba di Terminal Alam Barajo.
Nama yang begitu Minang. Apakah Jambi bagian dari Minang? Saya tidak tahu. Dan apakah kamu lebih tahu, sepertinya tidak juga.
Saya makan dan bertapa di kamar mandi cukup lama. Setelah menyegarkan diri, saya kembali menaiki bus jurusan Pekanbaru. Dan keantusiasan segera memenuhi batin saya, barangkali dikarenakan kali ini merupakan perjalanan terakhir menuju Riau.
Betapa melegakannya, Layla. Melewati jalan yang jarak antar kawasan penduduknya sangatlah jauh. Saya perhatikan alam yang dilalui, berupa bukit-bukit naik dan turun, melewati pula kawasan hutan sawit yang luar biasa luasnya. Saya terkagum-kagum, di Bangka Belitung juga banyak hutan sawit, setahu saya ada yang dua ribu hektar, namun yang di Sumatera ini lebih raksasa... oh! maksud saya lebih melaut dan berombak di bukit-bukit itu. Cukup indah memperhatikannya dari kaca kendaraan yang mengebut ini, meski membayangkan bagaimana manusia-manusia pekerja yang mengurusnya sama sekali tidak indah. Justru terbayang rumit.
Atau jangan-jangan sama sekali tidak rumit?
Hmm...
Kata orang-orang di Belitung, pulau mereka akan berjaya kembali beberapa tahun mendatang. Jika dulu mereka berjaya sebab timah, yang sekarang telah habis dan sukar ditemukan kecuali menggunakan alat-alat nan mahal, ke depannya sawit akan menopang hidup mereka dengan topangan yang tinggi. Bayangkan saja, dulu mereka menertawakan sebagian temannya yang memutuskan lebih dulu menanam sawit karena biaya jual cuma lima ratus hingga tujuh ratus rupiah per kilonya, namun kini sudah hampir menyentuh angka tiga ribu rupiah. Mari kita membayangkan bersama, Layla, betapa nyaring tawa mereka pemilik lahan sawit nan telah berinvestasi sejak bertahun-tahun yang lalu.
Lalu bayangkan setinggi apa bukit atau gunung tempat para pemilik sawit di Sumatera ini tertawa. Saya jadi ingin ikut-ikutan menanam sawit, siapa tahu nanti harganya akan menyentuh angka lima ribu? Kita bisa keliling dunia dari hasilnya, Layla.
Bapak-ibumu bisa saya biayai naik haji, anak-anak kita akan hidup tanpa kesusahan seperti bapak mereka, yang untuk melamar ibunya sampai harus menaiki kapal dan naik bis dari satu kota ke kota lainnya. Kamu tidak akan setuju, tidak akan suka.
Kalau saya akan suka. Sebab beberapa isi kehidupan tidak bisa diperoleh dengan perjalanan yang singkat. Saya ingin anak-anak kita nanti juga merasakan jauh: dari siapapun, dari apapun, termasuk dari kita berdua.
Saya tiba di Pekanbaru selepas Isya. Dan kamu tahu? Saya bertanya kepada seseorang di masjid terminal soal alamat baru yang saya kantongi. Katanya, saya perlu melanjutkan perjalanan lagi kurang-lebih dua jam, menumpangi kendaraan ke arah Bangkinang. Tubuh ini sudah letih dan ingin tidur, tetapi dua jam lebih maupun kurang—merupakan waktu yang singkat dibanding sekian hari terakhir. Maka saya memaksakan diri menuju tempat saya menumpangi mobil travel. Kata orang yang saya temui di masjid, travel di daerah sana sangat lihai seperti belut. Saya penasaran.
Sopir travel yang saya pilih mempersilakan saya duduk di sampingnya, di kursi depan, sementara di belakang ada tiga orang penumpang lain yang semuanya langsung tertidur begitu menyentuh kursi. Saya menyukai bau parfum kopi kendaraan itu, dan saya suka pula sifat sopir yang banyak bicara. Darinya saya jadi tahu bahwa saat kami melintasi daerah yang gelap tanpa rumah-rumah, disebutnya daerah itu sebagai Rimbo Panjang. Saya pun jadi tahu bahwa desa tujuan saya ini dekat dengan perbatasan bumi Minangkabau, mungkin saja saya bisa melihat betapa indah gunung di sana, dari jauh pun tak masalah.
Setelah jarak kilometer-kilometer yang cepat, menyalip truk tangki dan truk besar lainnya yang saya tak tahu sebutannya, saya tiba di Bangkinang. Titik turun penumpang semuanya di kota ini, dan saat sopir travel bertanya saya hendak turun di mana, saya memberitahunya alamat yang tertulis di kertas pemberian warga di Belitung. Dia kaget, saya juga kaget. Katanya tempat yang saya tuju bukanlah di kota, melainkan perjalanan masih perlu memanjang lagi, dan sebetulnya malah salah arah. Dia menyarankan saya menginap saja di sini dan mencari tumpangan besok pagi atau siang. Saya menolak. Bahkan saya lebih sudi menambah biaya yang sama dengan perjalanan dari Pekanbaru ke kota ini untuk melanjutkan perjalanan bersamanya.
Meski menggerutu, untungnya dia setuju, mungkin karena kasihan kepada saya.
Kami melaju lagi di jalanan. Kali ini sopir tak banyak bicara. Dia lebih banyak merokok dan berdehem-dehem sesekali. Telepon dari pihak travel yang berulang kali tak diangkatnya sama sekali. Lampu sorot mobil membentur kabut sepanjang kami melalui hutan, entah sawit atau bukan saya tak tahu, dan tak peduli. Saya cuma ingin lekas tiba.
Letih ini perlu segera dituntaskan.
...
Mobil berhenti di mana jalan aspal berakhir, saat saya turun, yang saya injak adalah tanah merah basah di samping sebuah sungai yang airnya mengalir dalam gelap. Katanya, namanya Sungai Subayang, dan desa yang saya tuju itu Tanjung Belit, tepat di seberangnya. Sang sopir sempat berpesan agar saya menunggu sampai subuh untuk menemukan perahu yang mau menyeberangkan saya ke sana. Sedang saat itu jam masih menunjukkan angka dua malam. Subuh jam berapa pun saya tak tahu, tapi saya tak punya pilihan lain.
Padahal perahu kayu—yang bentuknya unik, ramping dengan ujung lancip—banyak berjejer di sungai, serta ada beberapa warung yang buka di undakan dekat dermaga tanah itu. Saya perlu tahu apakah ada di antara mereka yang merupakan pemilik perahu. Siapa tahu rela dibayar untuk menyeberang sekarang?
Saya datangi salah satu warung kelontong. Beralasan beli rokok sekalian tanya-tanya soal penyeberangan. Penjaga toko itu adalah seorang pria tua yang kurus, dia mengaku merasa agak janggal bahwa saya memang menuju desa itu. Maka dia bertanya saya hendak menemui siapa. Saat saya sebut nama bapakmu, Layla, dia langsung tertawa. Rupanya tempat tinggal orang tuamu terletak di belakang warungnya, dan tentu saja, mereka masih tidur di jam-jam ini.
Rasanya sungguh tidak sopan bila pertemuan pertama saya dengan orang tuamu dapat terjadi dengan mengganggu istirahatnya. Maka saya memutuskan untuk meluruskan punggung di masjid dekat sana dan menunggu sampai pagi. Betapa nikmat Tuhan putuskan terhadap meluruskan punggung, lebih-lebih mendengar bunyi kretek-kretek setiap sendi yang kaku.
Tanpa sengaja saya pun tertidur. Dalam mimpi saya melihatmu berenang di sungai yang saya bayangkan deras airnya terdengar sampai ke masjid, seperti anak kecil.
Kemudian saya dibangunkan oleh takmir masjid dan bangkit dengan terperanjat. Tahu-tahu langit sudah berwarna ungu, dan di sini yang sebelumnya hanya ada saya seorang diri—kini ada beberapa bapak-bapak yang sedang wiridan dan mengaji selepas sembahyang. Lekaslah saya berwudhu sekalian mencuci muka dan menggosok gigi, lalu sholat dengan menggigil.
Percayalah, Layla, udara di sini dingin sekali. Dan hal tersebut wajar saja terjadi sebab begitu saya keluar masjid, saya menyaksikan alam yang asri dan air sungai yang jernih. Kabut terjebak di pohon-pohon, sampai ke dalam pagar hijau yang tinggi berupa hutan di perbukitan. Saya pun langsung berjalan menuju rumah orang tuamu, yang sederhana sekali: sebagian dinding dan atapnya berbahan seng, tanpa halaman, teras dan kamar yang kecil. Tetapi mereka tampak damai di ruang tamu itu, saat saya mengucap salam dan ditanyai beberapa pertanyaan seperti: “Siapa?” dan “Dari mana?”.
Kedua kakek dan nenekmu, maksud saya orang tuamu itu sudah begitu renta. Menurut warga desa, mereka adalah pasangan yang berusia lebih dari seratus tahun dan masih bisa beraktivitas dengan baik. Mereka berdua orang yang jujur. Tak cuma ucapan, bahkan raut wajahnya tak bisa bohong. Mereka begitu gembira menyambut kedatangan saya, Layla, terutama setelah saya jelaskan bahwa saya adalah orang yang hendak menikahi putrinya. Kegembiraan yang membuat saya gembira pula, kegembiraan yang ditampakkan begitu saja.
Lalu saya pun dipersilakan masuk. Mereka menjamu saya dengan apapun yang mata mereka jangkau. Kami mengobrol banyak hal, yang intinya tetap satu: mereka merestui pernikahan kita, meski menyatakan bahwa mereka tak bisa hadir karena kondisi keuangan serta kesehatan yang tidak memungkinkan.
Saya sudah mencoba memberikan solusi kepada mereka, seperti biaya perjalanan yang akan saya tanggung—yah, meski harus berhutang—dan biaya cek kesehatan atau bahkan berobat, selagi masih dalam jangkauan kemampuan saya. Tetapi mereka hanya tersenyum dan mengatakan tidak perlu. Kedua orang tuamu hanya perlu kamu dan saya tahu, bahwa mereka senang dan rida, bagaimanapun jalannya hubungan kita ke depan.
Namun inti yang sejatinya telah menjadi tujuan saya sejak pertama kali melangkah dalam perjalanan panjang ini—telah menyaru, Layla. Saru dengan pertemuan nan nyata dan syahdu itu. Saya tidak lagi peduli, tidak lagi ingat bahwa saya datang hanya untuk melamarmu. Perbincangan dengan kedua orang tuamu menyentuh satu bagian yang paling lunak dalam batin saya.
Ibumu, yang kulitnya pucat dan rambutnya sudah banyak beruban bercerita mengapa mereka berakhir di desa ini. Katanya, bapakmu berasal dari Riau, dan sejak kecil sangat ingin tinggal di desa ini. Mau jadi apapun: petani, pedagang, takmir masjid, atau bahkan pemulung tak apa asal impiannya dapat terwujud. Sehingga, setelah cukup lama tinggal di Belitung, bahkan sejak sebelum dan setelah kamu lahir di sana—oleh ibu aslimu maksudnya—kakek alias bapakmu memutuskan untuk menjual semua tanah dan barang-barang dan pindah kemari.
Omong-omong, setelah bertemu begini saya jadi sungkan dan ragu antara harus memanggil mereka kakek dan nenek atau bapak dan ibu. Tetapi saya harus teguh pendirian.
Ibumu adalah orang yang tak muluk-muluk. Katanya, apakah dia tidak keberatan ikut suaminya ke desa ini dan hidup sederhana—yang kalau menurut saya lebih cocok dikatakan hidup serba kekurangan—? Sama sekali tidak. Apalah impian seorang wanita sepertinya, yang tak pernah punya cita-cita lebih tinggi dari hidup dengan damai? Lagipula ibumu tampak amat mencintai bapakmu. Saya bisa merasakan hal itu dari caranya berucap dan menatap.
Dan bapakmu mengajak saya berkeliling desa, berjalan di tepian sungai sambil bercerita tentang masa kecilmu. Dari beliau saya baru mengetahui, bahwa kamu mereka titipkan kepada bibimu—alias kakak dari ibu aslimu yang sudah berkeluarga dan hidup mandiri—di Madura saat masih berumur empat tahun. Dan sejak saat itu sampai sekarang kalian tak pernah berjumpa lagi. Kamu tak pernah memberitahuku soal ini, Layla. Mungkin kamu tak suka saya bakal memandangmu sebagai manusia yang kesepian.
Padahal kita sama saja.
Dan bapakmu juga bercerita tentang istrinya yang malang. Wanita itu dulu hidup di desa sebagai anak seorang petani, parasnya cantik dan tubuhnya menarik, wajarlah bila banyak pria sudah tertarik kepadanya walau usianya belum matang. Bagi sebagian orang bisa jadi itu anugerah, akan tetapi bagi ibumu itu malapetaka. Berkat kecantikannya dia nyaris dikawin paksa oleh seorang tentara Belanda saat berkunjung ke Surabaya bersama orang tuanya. Dia ditangkap di pelabuhan dan dibawa pergi ke sebuah rumah, jauh dari tetangga. Sebenarnya ia tak mengerti pembicaraan para tentara itu, tetapi ia tahu bahwa hidup dan kesuciannya dalam bahaya.
Maka tengah malam ia melarikan diri, berlari dan merangkak di semak-semak sampai badannya penuh luka.
Dia pulang ke Madura tetapi tidak untuk merasa aman. Sebab orang tuanya bilang, di desa mereka tak lagi aman untuknya tinggal. Tentara itu mengenal bapaknya, dan pernah beberapa kali datang ke desa untuk mencari pekerja. Dia menyuruhnya pergi ke Jakarta, ke rumah salah seorang kerabatnya yang ada di sana. Tetapi takdir sial masih tak mau pergi. Di Jakarta dia hanya bisa bertahan selama beberapa tahun saja. Sebab Jepang mulai menduduki Indonesia, dan ia pun menjadi salah satu korban penculikan yang kemudian dibawa ke Bangka Belitung untuk dijadikan juru masak bagi para korban Romusha, lelaki-lelaki yang dipaksa bekerja belasan jam dalam sehari untuk menambang timah.
Di sanalah kedua orang tuamu berjumpa, sebab bapakmu adalah salah satu dari ratusan penambang itu.
Ibumu masih bisa tenang. Dalam keadaan serba terpaksa itu ia masih sanggup memaksa diri memasak dan mencuci pakaian para lelaki. Namun begitu kawan-kawannya sesama wanita di kawasan tambang mendengar teror, bahwa sebagian dari mereka mulai dipaksa menjadi budak seksual, tanpa pikir panjang ibumu kembali melarikan diri, kali ini bersama rekan-rekannya di sana.
Di antara mereka ada yang gagal, Layla. Tak ada yang tahu bagaimana nasib mereka, tetapi ibumu sendiri dibantu bapakmu, dan mereka berdua bersembunyi di pedalaman hutan di dataran tinggi selama berbulan-bulan.
Setelah kemerdekaan, bapak dan ibumu pun menikah. Mereka kemudian membeli sebidang tanah di pulau Belitung dan tinggal di sana selama beberapa puluh tahun. Dan begitulah yang terjadi selanjutnya.
Saya lama termenung di tepi Sungai Subayang. Memikirkan betapa dalam hidup yang damai tanpa riak ini bisa tersembunyi suatu kenyataan yang menyesakkan. Saya tak mampu membayangkan bila kita berdua harus melalui perjuangan yang sama seperti yang bapak dan ibumu alami. Mereka sudah begitu jauh melangkah, begitu jauh dari tempat asal diri mereka dahulu. Kini mereka tak punya siapa-siapa di sekitarnya, semua orang dalam kehidupan mereka telah tertinggal di belakang. Sedangkan kita akan segera meninggalkan mereka yang memutuskan untuk tinggal.
Napas yang panjang dan dalam, di hadapan hijau hutan Sumatera, di sisi aliran Sungai Subayang yang sakral, menjadi tanda bahwa saya akan benar-benar menikahimu. Kita akan hidup dengan tenang dan mewariskan cerita ini pada anak-anak.
Tetapi yang harus dilakukan saat ini adalah pulang.
Biografi Penulis:
Najmun Nahid adalah seorang Madura yang lahir pada Mei tahun 1999. Setelah menempuh jenjang sekolah dasar di Bangkalan, ia kemudian melanjutkan proses belajarnya ke beberapa pesantren di Jawa. Saat ini ia aktif mengajar di PP. Ibnu Cholil, Bangkalan. Selain itu ia juga aktif terlibat dalam beberapa komunitas kemanusiaan dan kesenian.
#Cerita #Perihal_Jauh

Posting Komentar