Malem Selikuran di Langgar Lawas Sumurber, Tradisi Ramadan yang Tetap Lestari
![]() |
| Suasana khotmil quran malem selikuran |
Sanusantara - Malam Jumat, 28 Maret 2026, langit Desa Sumurber, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, tampak cerah bertabur bintang. Di tengah suasana yang tenang, sebuah langgar lawas di ujung desa mendadak ramai oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an. Ratusan warga memadati mushola tua tersebut untuk mengikuti tradisi turun-temurun yang dikenal dengan Malem Selikuran.
Suasana sakral langsung terasa sejak pintu langgar dibuka. Para sesepuh duduk di saf depan, sedangkan generasi muda memenuhi teras hingga halaman langgar. Mereka rela berdesakan demi merasakan keberkahan malam istimewa di sepuluh hari terakhir Ramadan itu. Di sudut ruangan, deretan Al-Qur’an tua bersampul kulit yang mulai usang menjadi saksi bagaimana tradisi ini terus dijaga dengan penuh keikhlasan.
“Ini bukan sekadar acara tahunan, tetapi menjadi napas warga Sumurber dalam menjaga syiar Islam,” ujar Zuhdi Amin, sesepuh desa yang memimpin jalannya acara.
Tradisi Malem Selikuran diawali dengan khataman Al-Qur’an. Warga membaca ayat demi ayat secara bergantian hingga menuntaskan juz terakhir. Bacaan tartil yang menggema di dalam langgar seolah menghidupkan kembali suasana religius yang telah diwariskan selama puluhan tahun.
Setelah khatmil Qur’an selesai, suasana berubah menjadi lebih hangat namun tetap khidmat. Lantunan sholawat mulai berkumandang, diiringi tabuhan rebana dari grup hadrah Ranting Sumurber yang beranggotakan para pemuda dan pemudi desa. Perpaduan suara rebana dan sholawat menghadirkan nuansa spiritual yang menyentuh hati jamaah.
“Kami sengaja melibatkan grup hadrah lokal agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut meramaikan syiar Islam,” jelas Zuhdi Amin.
Ratusan warga yang hadir tampak larut dalam lantunan sholawat. Anak-anak, remaja, hingga orang tua mengikuti irama dengan penuh suka cita. Beberapa ibu terlihat menggendong anak mereka sambil bersholawat, seakan menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sejak usia dini.
Di sela kegiatan, warga saling menyapa dan bercengkerama hangat. Langgar lawas itu bukan hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga ruang yang mempererat tali persaudaraan antarwarga. Mereka datang membawa doa dan harapan agar mendapat keberkahan malam Lailatul Qadar.
“Kami percaya, jika tradisi ini terus dijaga dengan istiqamah, maka anak cucu kami tidak akan terputus dari kecintaan kepada Al-Qur’an,” tambah Zuhdi.
Di tengah derasnya pengaruh hiburan modern dan perubahan zaman, tradisi Malem Selikuran di Desa Sumurber tetap bertahan. Warga bergotong royong menyiapkan konsumsi, menghias langgar dengan lampu sederhana, hingga memastikan acara berjalan lancar tanpa membedakan status sosial. Semua duduk bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan keimanan.
Acara yang berlangsung hingga menjelang dini hari itu kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Zuhdi Amin. Ratusan jamaah mengangkat tangan, memohon ampunan dan keselamatan dunia maupun akhirat.
“Ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga, bukan hanya ritualnya, tetapi juga nilai luhur yang ada di dalamnya,” tuturnya.
Menurut Zuhdi, menghidupkan malam-malam penuh ibadah seperti Malem Selikuran menjadi salah satu jalan untuk meraih husnul khatimah.
“Semoga langgar ini tetap berdiri kokoh dan tradisi ini terus lestari hingga anak cucu nanti,” pungkasnya sambil menatap langgar tua yang perlahan mulai sepi ditinggalkan jamaah.
Kontributor: Zuhdi Amin #Malem_Selikuran #Tradisi_Ramadan #Sumurber_Gresik
