BREAKING

Pentas Tunggal Teater Lampu di SMAN 1 Sidayu Angkat Kritik Sosial dan Spirit Seni

Foto bersama setelah pertunjukan

Sanusantara - Jumat malam, 13 Februari 2026, Aula SMAN 1 Sidayu berubah menjadi ruang penuh makna. Bangunan yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar siswa itu mendadak hidup oleh semangat seni dan refleksi melalui Pentas Tunggal Teater Lampu. Acara dibuka dengan tarian kontemporer energik dari para siswa yang dipadukan dengan alunan musik band, menciptakan suasana meriah sekaligus memukau para penonton yang memenuhi aula.

Nuansa haru mulai terasa saat Gus Roin, pembina Teater Lampu, naik ke atas panggung untuk membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh hadirin mengenang perjalanan panjang dunia teater di SMAN 1 Sidayu.

“Aula SMAN 1 Sidayu ini adalah saksi sejarah. Beberapa kelompok teater ternama di Indonesia pernah tampil di sini, mulai dari Teater Keliling Jakarta, kelompok teater dari Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga berbagai komunitas lainnya,” tuturnya.

Ucapan tersebut seolah membangkitkan kenangan masa lalu. Aula yang sederhana itu terasa memiliki aura tersendiri, seakan menjadi ruang pertemuan antara sejarah, seni, dan generasi muda yang sedang melanjutkan estafet perjuangan teater.

Acara inti malam itu turut dihadiri Ketua Kotaseger Indonesia, Ki Afif, serta seniman senior Pak Fatih Sampek. Penampilan pertama dibawakan oleh Teater Lampu dengan lakon bertema kritik sosial. Pementasan tersebut menyoroti ketimpangan bantuan pemerintah yang dinilai belum merata bagi masyarakat kecil.

Melalui dialog dan gerak panggung yang kuat, para aktor muda berhasil menggambarkan keresahan masyarakat yang hanya menerima janji tanpa kepastian. Beberapa adegan bahkan membuat penonton terdiam, larut dalam suasana yang begitu dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Setelah pementasan pertama usai, suasana aula berubah lebih hening. Lampu panggung meredup menandai dimulainya lakon kedua yang dibawakan oleh Teater X (Kali) berjudul “Burung Kautilang”, karya sutradara Zuhdi Amin.

Lakon tersebut menceritakan seorang juragan yang terobsesi memelihara burung warisan leluhur. Obsesi itu perlahan berubah menjadi persoalan besar ketika sang juragan mulai menghalalkan berbagai cara demi mempertahankan tradisi keluarganya. Konflik yang dihadirkan dalam cerita berhasil menggambarkan bagaimana sebuah tradisi dapat berubah menjadi sumber perpecahan apabila kehilangan nilai kemanusiaan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa tradisi harus dirawat dengan hati nurani. Jika tidak, tradisi justru bisa menjadi bumerang bagi masyarakat,” ungkap Zuhdi Amin di sela acara.

Sepanjang pementasan berlangsung, penonton tampak menikmati setiap adegan dengan penuh perhatian. Sesekali terdengar tawa kecil, namun tak jarang suasana berubah hening ketika konflik dalam cerita mencapai puncaknya.

Salah seorang penonton yang hadir menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan ruang silaturahmi antarkomunitas seni.

“Kegiatan seperti ini membuat hubungan antarkomunitas teater semakin dekat dan akrab,” ujarnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan, malam itu juga menjadi ruang bertemunya para pegiat seni lintas generasi. Di sela pergantian adegan, para peserta terlihat berdiskusi ringan mengenai naskah, teknik akting, hingga perkembangan dunia teater di tengah derasnya budaya digital.

Setelah kedua lakon selesai dipentaskan, acara dilanjutkan dengan diskusi santai antara pemain, sutradara, dan penonton. Pak Fatih Sampek memberikan apresiasi kepada para pemain muda atas keberanian mereka menyampaikan kritik sosial melalui seni pertunjukan.

“Apa yang kalian tampilkan malam ini bukan hanya akting, tetapi juga suara hati nurani,” tuturnya.

Menjelang tengah malam, suasana reflektif semakin terasa ketika seorang siswi SMAN 1 Sidayu membacakan puisi “Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail. Dengan suara penuh penghayatan, setiap bait puisi mengalir perlahan dan membuat suasana aula berubah sunyi.

Pembacaan puisi tersebut menjadi penutup yang menyentuh. Para penonton tampak larut dalam perenungan tentang keadilan, kemanusiaan, dan makna kehidupan yang disampaikan melalui seni.

Malam itu, Aula SMAN 1 Sidayu tidak hanya menjadi tempat pertunjukan teater, tetapi juga ruang perjumpaan batin bagi para seniman, pelajar, dan masyarakat.

“Semoga semangat berkesenian ini tidak berhenti di sini dan terus hidup di setiap komunitas,” pungkas Gus Roin sambil menyalami para pegiat teater yang hadir.

Kontributor: Zuhdi Amin #Teater_Lampu #SMAN_1_Sidayu #Pentas_Teater

Posting Komentar