Ngala’ Sabãb, Tradisi Pemuda Madura Belajar kepada Guru Ngaji Sebelum Menikah

Ngala’ Sabãb merupakan tradisi pemuda Madura belajar kepada guru ngaji sebelum menikah sebagai bekal moral dan kehidupan berumah tangga.
Pemuda berbaju dan sarung hitam sedang vermainndi sawah
Ilustrasi pemuda Madura

Sanusantara - Di sejumlah desa di Kabupaten Sampang, Madura, masih terdapat tradisi yang dijalankan sebagian pemuda menjelang pernikahan. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Ngala’ Sabãb, yakni kebiasaan belajar sekaligus mengabdi kepada guru ngaji di surau sebelum prosesi akad nikah dilaksanakan.

Meski tidak lagi dijalankan oleh seluruh calon pengantin, tradisi tersebut masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat desa. Bagi mereka, Ngala’ Sabãb bukan sekadar kebiasaan menjelang pernikahan, melainkan juga menjadi proses pembentukan karakter serta bekal moral sebelum seseorang memasuki kehidupan rumah tangga.

Pelaku tradisi tersebut, Iqbal, pemuda asal Desa Plakaran, Sampang, menjelaskan bahwa Ngala’ Sabãb telah dikenal masyarakat sejak Islam berkembang di wilayah tersebut beberapa puluh tahun silam. Menurutnya, tradisi itu dimaknai sebagai ikhtiar mengambil sebab sekaligus mencari berkah kepada guru ngaji di surau sebelum akad nikah dilangsungkan.

Dalam pelaksanaannya, calon pengantin laki-laki mengabdi kepada guru ngaji dengan membantu berbagai pekerjaan di lingkungan surau. Mulai dari menyapu tempat mengaji, membersihkan halaman, hingga membantu aktivitas para santri. Melalui kegiatan tersebut, calon kepala keluarga dilatih untuk memiliki kedisiplinan sekaligus menumbuhkan rasa hormat kepada guru.

Selain itu, pelaksanaan Ngala’ Sabãb tidak memiliki batas waktu yang baku. Ada yang menjalaninya selama satu bulan, sebagian hanya satu minggu, bahkan ada pula yang cukup sehari semalam. Lamanya pengabdian umumnya disesuaikan dengan kesiapan calon pengantin serta kesepakatan bersama guru ngaji yang membimbingnya.

Tidak hanya mengabdi, selama menjalani tradisi tersebut calon pengantin juga mendapatkan pembelajaran mengenai tata cara akad nikah. Salah satu materi yang diberikan ialah latihan mengucapkan ijab qabul dengan baik dan benar agar prosesi akad dapat berlangsung lancar saat hari pernikahan tiba.

Di sisi lain, pembelajaran yang diberikan tidak berhenti pada tata cara akad nikah. Guru ngaji juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai nasihat mengenai kehidupan berumah tangga. Nasihat itu disampaikan secara sederhana, namun sarat dengan makna sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah menikah.

Salah satu perumpamaan yang kerap disampaikan ialah kehidupan rumah tangga diibaratkan seperti sebuah perjalanan berlayar. Dalam filosofi tersebut, suami dan istri digambarkan sebagai dua orang yang mengendalikan sebuah perahu, sedangkan angin serta ombak melambangkan berbagai persoalan yang akan dihadapi sepanjang perjalanan hidup.

Melalui perumpamaan itu, calon pengantin diajak memahami bahwa kehidupan berumah tangga tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya suasana terasa tenang, namun tidak jarang pula berbagai persoalan datang silih berganti. Oleh sebab itu, kesabaran, kebersamaan, dan sikap saling menguatkan menjadi bekal penting dalam membangun keluarga.

Lebih jauh, tradisi Ngala’ Sabãb juga menunjukkan peran penting surau dalam kehidupan masyarakat Madura. Selain menjadi tempat ibadah, surau berfungsi sebagai ruang pendidikan informal yang mewariskan nilai agama, budaya, dan kehidupan kepada generasi muda melalui hubungan antara guru dan murid.

Meski perubahan zaman terus berlangsung dan sebagian pemuda kini memilih cara yang lebih praktis dalam mempersiapkan pernikahan, tradisi Ngala’ Sabãb masih tetap dijaga di sejumlah desa. Keberadaannya menjadi bukti bahwa masyarakat masih memandang penting proses pembelajaran sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Dengan demikian, Ngala’ Sabãb tidak hanya mencerminkan kuatnya hubungan antara agama dan budaya dalam masyarakat Madura, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kesiapan membangun keluarga tidak semata-mata diukur dari aspek materi. Lebih dari itu, kematangan sikap, pemahaman hidup, serta bekal moral tetap menjadi bagian penting yang diwariskan melalui tradisi tersebut.* (Joko) #Tradisi_Madura #Pernikahan_Adat #Kearifan_Lokal

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Ngala’ Sabãb, Tradisi Pemuda Madura Belajar kepada Guru Ngaji Sebelum Menikah
  • Ngala’ Sabãb, Tradisi Pemuda Madura Belajar kepada Guru Ngaji Sebelum Menikah
  • Ngala’ Sabãb, Tradisi Pemuda Madura Belajar kepada Guru Ngaji Sebelum Menikah
  • Ngala’ Sabãb, Tradisi Pemuda Madura Belajar kepada Guru Ngaji Sebelum Menikah
  • Ngala’ Sabãb, Tradisi Pemuda Madura Belajar kepada Guru Ngaji Sebelum Menikah
  • Ngala’ Sabãb, Tradisi Pemuda Madura Belajar kepada Guru Ngaji Sebelum Menikah

Posting Komentar